Feed on
Posts
comments

Hal-hal yang biasa terjadi dalam kehidupan ini, terkadang lupa untuk disyukuri. Matahari terbit setiap pagi dan tenggelam pada senja itu sudah biasa. Tanaman tumbuh, berbunga dan berbuah dengan sendirinya itu juga bukan hal luar biasa. Langit menumpahkan air hujan atau salju pada masanya tanpa perlu diajari itu juga biasa…

Semua yang biasa itu terkadang lupa untuk disyukuri…

Semua yang biasa itu keajaiban yang menghampiri kita setiap hari. Apa jadinya jika keajaiban-keajaiban yang biasa terjadi setiap hari itu menghilang? Apa jadinya jika matahari tak mau muncul lagi pada pagi hari atau matahari tak mau tenggelam pada senja hari? Masihkah kita mengkufuri nikmatNya?

Suatu malam aku menonton sebuah film. Temanya tentang kehidupan dan kematian. Dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Film ini berkisah tentang seorang malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa manusia yang meninggal secara tiba-tiba karena sudah memenuhi tujuan hidupnya di dunia ini. Ini menyadarkan aku bahwa hidup hanya persinggahan sementara untuk memenuhi takdir kita di dunia.

Ketika manusia dilahirkan ke dunia,  manusia pasti  pergi meninggalkan dunia ini jika sudah waktunya. Bagi manusia yang masih diberi kesempatan hidup, pasti akan merasa kehilangan ketika orang yang berarti dihidupnya meninggal. Karena orang itu penting bagi dirinya. Begitupun bagi mereka yang sudah tiada dari dunia. Meninggalkan orang-orang yang dicintai tentu tak mudah bagi mereka. Namun nyawa ini hanya titipan sementara, jika Sang Khalik berkehendak, nyawa itu bisa pergi dari kita.

Kehidupan dan kematian mengajarkan banyak hal kepada kita. Masih diberi kesempatan hidup merupakan nikmat yang harus disyukuri. Menyadari tentang kematian telah menanti diri kita mengajari kita menjadi orang yang lebih baik dan berada di jalur yang benar dalam memenuhi takdir kita di bumi Sang Maha Kuasa.

Semoga kta semua menjadi ahli syukur yang berhati-hati dalam menjalani nikmat kehidupan yang diberikan Sang Khalik…Semoga kita menjadi umat yang diberkahi jalan terang dan lurus untuk terus berada dijalan yang diridhoiNya.

-R-

Rembang Senja

Berapa banyak rembang senja yang terlewatkan. Jelas telah banyak yang terlewatkan…Fiuhhhh. Mungkin butuh sebuah perubahan dan tindakan berani. Bukan hanya untuk melihat dan merasakan datangnya rembang senja. Tapi untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah aku mampu dan berani mengambil jalan itu sekarang?!?
-R-

Sentimentil

Siang berselimut awan hitam, sepertinya hujan akan membasahi bumi. Pertanda itu memang benar, air tumpah, titik-titik hujan menempa atap rumah. Terdengar seperti simfoni pengantar tidur paling manjur.

Tapi hujan di siang itu tak lantas membuatku mudah memejamkan mata, melepaskan sejenak kepenatan. Dari Kotak dengan layar menyala di hadapanku terdengar suara khas Giring, vokalisnya Nidji. Jangan Lupakan Aku! Yeah, lagu itu…entah kenapa setiap kali mendengar lagu itu selalu mencuatkan perasaan sentimentil.

Ku berjalan terus tanpa henti dan dia pun kini telah pergi. Ku berdoa di tengah indahnya dunia, ku berdoa untuk dia yang ku rindukan. Memohon untuk tetap tinggal dan jangan engkau pergi lagi. Berselimut di tengah dingin dunia, berselimut dengan dia yang ku rindukan…

Dad, would it be nice to hold you…Mom, would it be nice to take you home…My angel, would it be nice to kiss you. ..

Hummmfff, i think lagu itu maknanya begitu dalem. Tak lama gantian Letto yang muncul dengan Sandaran Hati-nya. Tapi entah kenapa setiap kali denger Sandaran Hati justru membangkitkan semangatku. Ciayou!!!Semangat!!!

Tak lama hujan pun reda. Aku menatap ke arah langit yang mulai kembali cerah, awan hitam sedikit demi sedikit menyingkir dari angkasa. Kubergegas membenahi barang-barang yang berserak di atas ranjang dan memasukan ke dalam tas cokelatku. Kurapikan diri dan mengambil langkah meninggalkan kesentimentilan yang akan tetap tersimpan di sudut kamar bercat biru yang nyaman.

-R-

Malaikat kecilku

Tangan halus itu mengulas pipiku lembut. Tak ada satu kata terucap dari bibirnya, namun senyumanan bak malaikat itulah yang menyejukan hatiku yang tengah dilanda gundah. Aku memandanginya dengan penuh takjub, belum pernah kulihat senyuman setulus itu.  Apakah ini nyata? Atau ini hanya anganku semata?

Kukedipkan mataku berkali-kali, senyuman itu masih tampak nyata di hadapanku. Kukucek mataku sambil kutepuk pipiku berkali-kali sampai terasa panas, senyuman itu nyata adanya. Dialah malaikat kecilku. Dia memeluk tubuhku lalu aku terlelap.

Setiap kali kegalauan mencoba melilit hatiku, malaikat kecilku selalu mendatangiku. Memberikan senyuman terindahnya dan memelukku hangat hingga aku terlelap dan melupakan semua kepedihan. Membuatku kembali bersemangat menghadapi perjalanan hidup.

-R-

Malam itu, orang-orang disekitarku sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada sebagian yang ribut karena televisi tak bisa dinyalakan, padahal Liga Premier sudah mulai main. Liverpool lawan Fulham. Tombol onn-off televisi sudah dipencet berkali-kali, tapi tak menyala juga. Semua tombol remote telah dipencet, tapi tak ada gambar yang keluar dari layar kaca televisi.

Keributan pun mulai menyeruak, kesal karena televisi tak bisa dinyalakan. Setelah tombol TV dicoba dipencet kesekian kalinya, akhirnya gambar tayangan sepakbola muncul dari layar kaca. Tak peduli dengan apa yang mereka ributkan, kunikmati alunan suara Anggun yang baru kudownload beberapa waktu lalu. Lagu Bayang-Bayang Ilusi menemani pikiranku melayang ke masa lampau.

Aku membongkar satu per satu imel yang kuterima beberapa tahun lalu. Ada kiriman beberapa imel berisi foto narsisku sekitar dua tahun lalu. Ada rasa geli ketika melihat foto-foto itu. Rasanya itu semua baru terjadi baru-baru ini. Rasa rindu akan masa-masa itu pun perlahan menyelinap ke dalam hatiku. Sungguh aku merindukan masa-masa itu. Sebuah masa penuh dengan gairah kegembiraan dan petualangan.

Proses metamorfosa, layaknya kupu-kupu, terjadi. Ketika seekor kupu-kupu bermetamosfosa, ada dua kemungkinan akan jadi apa dia ketika bereinkarnasi. Jadi seekor kupu-kupu dengan sayap berwarna indah ataukah kupu-kupu dengan warna sayap yang tak menarik sama sekali. Perubahan. Itulah yang terjadi pada diri semua manusia, termasuk diriku.

Dari foto-foto itu aku menemukan potongan-potongan mozaik dalam kehidupanku. Ketika kupungut satu persatu mozaik kehidupanku, aku menyadari semua memang digariskan terjadi seperti apa yang sudah kulewati. Apa yang dulu kupertanyakan, telah terjawab seiring dengan berjalannya waktu. Kotak teka-teki kehidupan yang dulu masih kosong, kini telah terisi.  

Fiuhhh, tak pernah terbayangkan dalam benakku seperti inilah yang kualami selama ini. Memang benar, masa depan itu belum berasa sehingga tak bisa dibayangkan akan jadi seperti apa. Masa depan layaknya bayang-bayang ilusi, sebuah angan-angan yang tak pernah kita tahu apakah akan jadi kenyataan di masa depan.

-R-

Breakaway

Grew up in a small town. And when the rain would fall down, I’d just stare out my window. Dreaming of what could be. And if I’d end up happy, I would pray…

Trying hard to reach out. But when I’d try to speak out, felt like no one could hear me. Wanted to belong here, but something felt so wrong here. So I’d pray…I could breakaway

I spread my wings and I learn how to fly, I’ll do what it takes til’ I touch the sky. And I’ll make a wish, take a chance, make a change and breakaway. Out of the darkness and into the sun, but I won’t forget all the ones that I loved. I won’t forget the place I come from. I’ll take a risk, take a chance, make a change and breakaway!!!

Wanna feel the warm breeze, sleep under a palm tree. Feel the rush of the ocean, get onboard a fast train. Travel on an airplane, far away (I will pray) and breakaway…

Buildings with a hundred floors, swinging with revolving doors. Maybe I don’t know where they’ll take me, but gotta keep moving on, moving on, fly away, breakaway…!!!!!

Each day, d’ desire getting more stronger and stronger…Breakaway, Fly away!!!!!!Ya Rob, Penguasa Jadag Raya, bantulah aku mengepakkan sayap lebih lebar dan terbang bebas menggapai impian…

-Ranie-

Hidup

Sudah lebih dari dua pekan terakhir bangun pagi sudah menjadi rutinitas wajib. Kata wajib kugunakan karena hukumnya memang harus jika masih ingin menghidupi diri sendiri. Dulu, ada sebagian yang bilang bekerja hanya sebagai bentuk kegiatan sosialku. Itu anggapan mereka dan sekarang jelas tidak benar. Bekerja jelas menjadi sumber penghasilan utamaku untuk menghidupi at list diriku sendiri.
Kadang aku berpikir, inilah hidup yang sebenarnya. Di mana kita dituntut untuk selalu berusaha dan berusaha demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Aku menyukai pekerjaanku. Aku menyukai apa yang kugeluti, tapi kadang aku tak suka dengan apa yang kukerjakan…
Dengan profesiku saat ini, pandangan sinis kerap kali mampir tertuju kepadaku…Kata-kata yang tak enak didengar tak jarang mampi ketelingaku (aku menghindari kata sarkastik karena kesannya terlalu kasar dan tak manusiawi, sementara kata-kata yang dilontarkan kepadaku pada dasarnya masih bisa kuterima secara logika, meski kadang tidak secara hati). Aku sadar Itu bagian dari risiko pekerjaan. Tak semua orang memandang pekerjaanku sebagai profesi yang layak untuk dibanggakan, justru ada yang memandang memalukan. Tapi apa anggapan orang biarlah tetap menjadi seperti itu…Tak perlu dipusingkan, meski terkadang membuat kita muak.
Mungkin suatu saat aku harus meninggalkan pekerjaan ini. Tak ada rencana jangka panjang untuk tetap berprofesi seperti saat ini, out of my mind. Kerap kali keinginan untuk segera mengakhiri yang aku mulai sejak sekitar empat tahun lalu menghantui benakku…Ya ada keinginan kuat untuk merealisasikannya. Tapi kapan waktunya? Wallahualam
Namun dibalik keinginan kuatku untuk segera mencapai tanda titik dari (mungkin) ratusan ribu kata yang telah terabadikan, aku tersadar akan sebuah arti kesederhanaan dan rasa syukur…Apa yang kusebut sebagai derita, bukanlah apa-apa. Di luar sana, banyak penderitaan yang lebih hebat dari yang kurasakan…
Suatu hari aku mengunjungi seorang Balita pengidap kelainan hydrocephalus. Aku sudah mengetahui kondisi Balita tersebut lebih dari sepekan sebelum aku mengunjunginya. Namanya cantik sekali, Priskilla Annisa. Entah kenapa pagi itu, ada keinginan kuat untuk segera mengunjunginya. Meski lokasinya lumayan jauh, dengan semangat aku menggeber motorku menuju rumah Priskilla.
Sesampainya di sana, aku melihat Balita berumur 3,5 tahun tersebut berbaring di tempat tidurnya yang hanya beralaskan busa tipis. Begitu melihatku datang, sang ayah segera merapikan puterinya dan menggendongnya dengan penuh rasa sayang. Aku merasakan getaran rasa sayang yang luar biasa dari sang ayah tersebut kepada Priskilla. Ada rasa prihatin yang mendalam melihat kondisi kepala Priskilla yang kepalanya membesar dengan tubuh yang sangat kurus. “Anak sekecil ini harus menjalani penderitaan berat seperti ini,” batinku. Meski aku tak suka mengatakannya, boleh dibilang dia tinggal menunggu waktu, karena kelainan yang dideritanya sudah tak bisa disembuhkan. Kepalanya sudah dipenuhi cairan otak yang diproduksi terlalu berlebihan, sehingga sudah tidak memungkinkan untuk dioperasi.
Cukup lama aku berbincang dengan sang ayah dan nenek Priskilla. Air mataku tumpah begitu keluar dari mulut gang rumah Priskilla. Betapa seharusnya aku bersyukur atas apa yang ada di hidupku. Itu hanya salah satu realita hidup yang sebelumnya tidak pernah kutemukan, aku yakin masih ada banyak realita kehidupan lain yang bisa semakin memperkaya pengalaman, pengetahuanku, jiwa dan batinku. Ini membuat aku semakin yakin, apa yang terjadi dalam pekerjaan saat ini, meski aku tak menyukainya, ada hikmah yang bisa kupetik dari apa yang harus kujalani.
Jika bicara kesederhanaan, arti kesederhanaan kerap kudapati ketika berbincang dengan para petani. Bagi mereka hidup itu sakdermo nglakoni urip. Mereka tak memiliki impian yang telalu muluk-muluk. Bagi mereka kehidupan seolah mengalir seperti air, seolah tak ada yang mereka pusingkan. Meski tentunya mereka juga punya masalah, tapi mereka menghadapi permasalahan dengan lebih tenang dibandingkan buruh seperti aku. Sesulit apapun kehidupan yang mereka jalani, tak ada gurat kesusahan sedikit pun di wajah mereka.
Aku ingat kata-kata salah seorang petani yang kutemui. Dalam bahasa Jawa, dia berkata ada wejangan Jawa yang kerap dilontarkan para tetua tentang kehidupan. “Yen pengen dadi wong makmur, dadio pejabat utowo pengusaha sing akeh bandane. Yen pengen dadi priyayi, sekolaho sing dhuwur trus kerjo neng kantoran. Yen pengen uripmu tentrem raharjo, dadio petani,” ujar bapak petani yang berumur sekitar 60 tahun tersebut. Uhmmmm? Bisa diinterpretasikan sendiri….Apakah aku berniat jadi petani?!?!?

-R-

Demi waktu…

Suatu pagi menjelang siang, aku duduk termangu di depan sebuah ruangan bersekat-sekat, menunggu seseorang yang sudah buat appoinment denganku lusa sore. Aku melihat jam di layar Ponselku menunjuk angka 11:15. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang sudah disepakati, kupikir masih dalam batas toleransi.
Syukurlah, tak berselang lama, aku melihat sosok yang wajahnya sudah familer, meski belom pernah sekali pun aku bertatapan langsung dengannya. Tapi aku sudah kerap mendengar suaranya yang berat, berpendidikan dan penuh percaya diri. Topik yang kami bicarakan kali itu menurutku sangat menarik. Waktu…Ya waktu…
Beliau bilang, berbicara tantang waktu berarti bicara kehidupan. Aku melihat raut muka antusias di wajah beliau ketika kutanya mengenai bagaimana cara mengelola waktu yang baik. "Manfaatkan waktu sebaik-baiknya atau akan muncul penyesalan di kemudian hari, karena waktu tak bisa diputar kembali…Kata kuncinya ‘dun put off until tomorrow what we can do today’," ujar beliau.
Aku jadi inget kata salah seorang temanku yang pernah berbagi pengetahuan agama denganku. "Sejatinya yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, karena kita tak bisa mengulangi apa yang terjadi di waktu lalu, meski itu baru sedetik lalu…" Mungkin ada beberapa makna yang tersirat dari kalimat itu, menurutku salah satunya menggambarkan tentang keutamaan waktu.
Selain dibekali dengan akal, fitrah dan agama, manusia juga dibekali waktu dalam mengarungi kehidupan fana. Bahkan demi mengingatkan manusia tentang keutamaan waktu, Allah SWT menurunkan surat Al Ashr. "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-’Ashr, 1-3)
Ketika memberiku pemahaman mengenai waktu, beliau mengutip surat tersebut beserta terjemahannya. Beliau berkata, Allah juga bersumpah demi waktu Ashar. Kenapa waktu Ashar? "Karena waktu Ashar itu merupakan waktu pergantian hari," ujar beliau.
Sungguh betapa pentingnya waktu, sayang terkadang kita lupa bahwa waktu begitu berharga. Dan secara tak sadar menyia-nyiakan waktu. Parahnya, jika kita menghabiskan waktu hanya mengejar kesenangan dunia. Jika seperti itu, apa jadinya kita di akherat nanti? Naudzubillahimindzalik. Semoga kita tak menjadi orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu. Semoga…
Aku pernah membaca artikel di sebuah kajian muslimah, ada kalimat yang sangat menarik. Waktu tak lain adalah nasib kita sendiri. Uhmmmm, benar sekali. Aku berpikir, waktu tak hanya menjadi penentu nasib kita didunia, tapi waktu juga menjadi salah satu penentu kemana kita akan berlabuh kelak di akherat. Bukankah Allah telah berjanji, jika kita menghabiskan waktu di dunia dengan amal-amal yang shalih dan saling memberikan nasehat menuju kebenaran dan disertai dengan kesabaran, kita tak akan menjadi manusia yang merugi.
Permasalahannya, memanajemen waktu dengan baik itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Kita butuh membiasakan diri mengelola waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya agar menjadi khusnul khatimah dan memperoleh hasanah fid dunya, hasanah fil akhirah, waqina ‘azabannar.
Terlambat 15 menit dari kesepakatan waktu janjian kami mungkin menjadi salah satu contoh kami belum bisa disiplin waktu, khususnya aku. Karena jujur saja, aku nyampe di tempat kami janjian sekitar pukul 11.07, berarti aku telat tujuh menit. Sementara beliau yang baru datang delapan menit setelah kedatanganku mengaku sudah berada di lokasi janjian tepat jam 11.00, tapi tak langsung menuju ruangan di mana aku menunggu beliau. Okay, alasan bisa diterima.
Sekali lagi aku harus jujur, aku kerap menyepelekan waktu…Jika teman2ku ditanya, mereka pasti sepakat menjawab aku sering molor kalo janjian. Bukankah telat tujuh menit tak bisa ditoleransi jika tiga menit sebelumnya aku sudah kehabisan waktu di dunia ini?
Beliau berkata, salah satu cara melatih disiplin waktu bisa dimulai dari hal-hal kecil tapi sangat penting. Contohnya aja dengan menyegerakan salat. Terkadang karena sibuk bekerja, kita sering menunda-nunda salat. "Ah bentar, kerjaan belom kelar nih. Salatnya bentar lagi kalo udah kelar." Jujur lagi, aku sering mengalaminya. Adakah kalian juga pernah atau bahkan sering mengalaminya? Lalu bagaimana jika waktu kita sudah habis sebelum sempat menunaikan salat. Pasti kita akan menyesal, bukan?
Karena waktu pula yang membuatku memutuskan berhijab. Sempat ragu, sebelum akhirnya aku yakin karena didera berbagai kegelisahan yang berkecamuk dalam hati dan pikiran. Jika aku menunda hingga kelak menikah ato sudah jadi ibu2 atau bahkan nenek2, buat apa? Jika aku menunda sepekan, sebulan, setahun, sewindu atau di tahun-tahun selanjutnya, apakah aku masih berkuasa atas waktuku di dunia? Bahkan meski aku hanya menundanya sehari, tak ada jaminan bagiku masih bertemu hari esok.
Semoga kita mampu memanfaatkan waktu yang kita miliki di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Bukankah kita tak ingin jadi golongan yang merugi? Wallahu’alam.

-R-

Dun Say Goodbye

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word

And then that word grew louder and louder
‘Til it was a battle cry
I’ll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything’s changing
Doesn’t mean it’s never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war

Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You’ll come back when it’s over
No need to say goodbye

Now we’re back to the beginning
It’s just a feeling and no one knows yet
But just because they can’t feel it too
Doesn’t mean that you have to forget

Let your memories grow stronger and stronger
‘Til they’re before your eyes
You’ll come back
When they call you
No need to say goodbye

-The Call (RS)-

-KoSonG-

Pernahkah kau merasa, tidak pernah merasa sepi?
Pernahkah kau merasa, tidak pernah merasa sunyi?
Aku tak pernah…Aku selalu… merasakannya…
Kosong…Kosong…
Pernahkah kau terbangun dan merasa semua semu?
Pernahkah kau inginkan lari dari dirimu kini?
Itulah aku…Aku selalu…merasakannya…
Kosong…Kosong…

-Karena kita manusia-

Older Posts »