Suatu pagi menjelang siang, aku duduk termangu di depan sebuah ruangan bersekat-sekat, menunggu seseorang yang sudah buat appoinment denganku lusa sore. Aku melihat jam di layar Ponselku menunjuk angka 11:15. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang sudah disepakati, kupikir masih dalam batas toleransi.
Syukurlah, tak berselang lama, aku melihat sosok yang wajahnya sudah familer, meski belom pernah sekali pun aku bertatapan langsung dengannya. Tapi aku sudah kerap mendengar suaranya yang berat, berpendidikan dan penuh percaya diri. Topik yang kami bicarakan kali itu menurutku sangat menarik. Waktu…Ya waktu…
Beliau bilang, berbicara tantang waktu berarti bicara kehidupan. Aku melihat raut muka antusias di wajah beliau ketika kutanya mengenai bagaimana cara mengelola waktu yang baik. "Manfaatkan waktu sebaik-baiknya atau akan muncul penyesalan di kemudian hari, karena waktu tak bisa diputar kembali…Kata kuncinya ‘dun put off until tomorrow what we can do today’," ujar beliau.
Aku jadi inget kata salah seorang temanku yang pernah berbagi pengetahuan agama denganku. "Sejatinya yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, karena kita tak bisa mengulangi apa yang terjadi di waktu lalu, meski itu baru sedetik lalu…" Mungkin ada beberapa makna yang tersirat dari kalimat itu, menurutku salah satunya menggambarkan tentang keutamaan waktu.
Selain dibekali dengan akal, fitrah dan agama, manusia juga dibekali waktu dalam mengarungi kehidupan fana. Bahkan demi mengingatkan manusia tentang keutamaan waktu, Allah SWT menurunkan surat Al Ashr. "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-’Ashr, 1-3)
Ketika memberiku pemahaman mengenai waktu, beliau mengutip surat tersebut beserta terjemahannya. Beliau berkata, Allah juga bersumpah demi waktu Ashar. Kenapa waktu Ashar? "Karena waktu Ashar itu merupakan waktu pergantian hari," ujar beliau.
Sungguh betapa pentingnya waktu, sayang terkadang kita lupa bahwa waktu begitu berharga. Dan secara tak sadar menyia-nyiakan waktu. Parahnya, jika kita menghabiskan waktu hanya mengejar kesenangan dunia. Jika seperti itu, apa jadinya kita di akherat nanti? Naudzubillahimindzalik. Semoga kita tak menjadi orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu. Semoga…
Aku pernah membaca artikel di sebuah kajian muslimah, ada kalimat yang sangat menarik. Waktu tak lain adalah nasib kita sendiri. Uhmmmm, benar sekali. Aku berpikir, waktu tak hanya menjadi penentu nasib kita didunia, tapi waktu juga menjadi salah satu penentu kemana kita akan berlabuh kelak di akherat. Bukankah Allah telah berjanji, jika kita menghabiskan waktu di dunia dengan amal-amal yang shalih dan saling memberikan nasehat menuju kebenaran dan disertai dengan kesabaran, kita tak akan menjadi manusia yang merugi.
Permasalahannya, memanajemen waktu dengan baik itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Kita butuh membiasakan diri mengelola waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya agar menjadi khusnul khatimah dan memperoleh hasanah fid dunya, hasanah fil akhirah, waqina ‘azabannar.
Terlambat 15 menit dari kesepakatan waktu janjian kami mungkin menjadi salah satu contoh kami belum bisa disiplin waktu, khususnya aku. Karena jujur saja, aku nyampe di tempat kami janjian sekitar pukul 11.07, berarti aku telat tujuh menit. Sementara beliau yang baru datang delapan menit setelah kedatanganku mengaku sudah berada di lokasi janjian tepat jam 11.00, tapi tak langsung menuju ruangan di mana aku menunggu beliau. Okay, alasan bisa diterima.
Sekali lagi aku harus jujur, aku kerap menyepelekan waktu…Jika teman2ku ditanya, mereka pasti sepakat menjawab aku sering molor kalo janjian. Bukankah telat tujuh menit tak bisa ditoleransi jika tiga menit sebelumnya aku sudah kehabisan waktu di dunia ini?
Beliau berkata, salah satu cara melatih disiplin waktu bisa dimulai dari hal-hal kecil tapi sangat penting. Contohnya aja dengan menyegerakan salat. Terkadang karena sibuk bekerja, kita sering menunda-nunda salat. "Ah bentar, kerjaan belom kelar nih. Salatnya bentar lagi kalo udah kelar." Jujur lagi, aku sering mengalaminya. Adakah kalian juga pernah atau bahkan sering mengalaminya? Lalu bagaimana jika waktu kita sudah habis sebelum sempat menunaikan salat. Pasti kita akan menyesal, bukan?
Karena waktu pula yang membuatku memutuskan berhijab. Sempat ragu, sebelum akhirnya aku yakin karena didera berbagai kegelisahan yang berkecamuk dalam hati dan pikiran. Jika aku menunda hingga kelak menikah ato sudah jadi ibu2 atau bahkan nenek2, buat apa? Jika aku menunda sepekan, sebulan, setahun, sewindu atau di tahun-tahun selanjutnya, apakah aku masih berkuasa atas waktuku di dunia? Bahkan meski aku hanya menundanya sehari, tak ada jaminan bagiku masih bertemu hari esok.
Semoga kita mampu memanfaatkan waktu yang kita miliki di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Bukankah kita tak ingin jadi golongan yang merugi? Wallahu’alam.
-R-